Jumat, 08 Juni 2012



Dinul Haq : Harus Ada Enviromental Impact Assessments Dalam Pembangunan
Jakarta, .- Pembangunan pada hakekatnya merupakan upaya menjadikan atau merubah sesuatu keadaan dari kondisi tertentu menjadi ke sesuatu kondisi yang terencana sehingga menjadinya lebih baik. Dalam kelangsungan proses pelaksanaan pembangunan meskipun manusia telah berupaya dengan melakukan penerapan kemampuan berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
alt
Ketua Senat Universitas Diponegoro (UNDIP) Dinul Haq menjelaskan  tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pelaksanaan pembangunan akan dapat menimbulkan dampak terhadap manusia dan lingkungan hidup. Baik berupa dampak positif maupun dampak negatif. Sehingga dalam melakukan pelaksanaan kegiatan pembangunan diperlukan kebijaksanaan terhadap lingkungan yang berkelanjutan (sustainable development) sehingga hasil dari pembangunan tersebut dapat dinikmati oleh generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Untuk itu, perlu dilakukan environmental impact assessment (EIA) atau yang dikenal dengan AMDAL.
EIA merupakan identifikasi suatu  dampak lingkungan yang diakibatkan oleh suatu aktivitas dan mitigasi yang akan dilakukan yang melalui prosedur  yang bertahap dan multidisiplin. Dari hasil EIA tersebut akan dihasilkan dokumen EIA yang merupakan sebuah dokumen teknis yangmengidentifikasi, memprediksi analisis dampak terhadap lingkungan dan juga sosial, budaya, dan kesehatan.
“Dari proses tersebut maka dapat dipastikan tranparansi dalam pengambilan keputusan, keterlibatan masyarakat  dalam  menilai dampak lingkungan, dan dipastikan proyek bersifat terbuka” demikian  jelas Dinul Haq mahasiswa Teknik Geologi sebagai peserta EIA Training di New Delhi 16-17 Februari 2011.
Training ini diselenggarakan oleh NGO forum on ADB yang bekerja sama dengan ERC (EIA Resource and Response Center) yang bertujuan untuk melihat secara jelas penyusunan dan sosialisasi EIA ke masyarakat. Peserta dari training ini berasal dari Mekong, South Asia, South‐East Asia, Central Asia and Caucasus. “Permasalahan  EIA di Indonesia dan negara-negara asia lainnya hampir sama yaitu belum adanya informasi secara terbuka ke masyarakat dan harus diperbaiki kedepannya” tegas Dinul Haq

Wed, 03/02/2011 - 14:10 |  admin

Senin, 16 April 2012

selalu ada semangat(AtTaubah : 51)

QS At Taubah ayat 51
"qul lan yushiibanaa illaa maa kataballaahu LANAA huwa mawLaanaa wa'alaallaahi falyatawakkali lmu/minuun"
arti nya :
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal."

Dalam bahasa arab kalau ada kalimat “LANAA” itu artinya ada pemberian, adanya manfaat..makanya ayatnya tsb tidak berbunyi "illa ma kataballahu " ‘ALAINA"…karena ‘alaina itu berarti adzab, siksaan, murka.

kenapa di pakainya LANAA yaitu artinya: dibalik kesulitan itu banyak hikmah yang bisa kita ambil, untuk sekedar menyadarkan, atau memperingati kita, untuk lebih tanggap terhadap saudara-saudara kita yang masih dalam kondisi mustadh’afin.

Arti Laanaa yang lain yaitu setiap kondisi sulit termasuk musibah,kritikan,cobaan adalah sebagai arena latihan untuk meningkatkan kerja dan kinerja dakwah, perjuangan, dan latihan praktek di lapangan. 

Mungkin kita terampil dengan teori,materi2,hafalan tetapi dengan praktek yang real "dilapangan" sesungguhnya baru kelihatan baik secara fisik, moral dan ideologi. Makanya perlu praktek untuk mengasah menghadapi relitas kesulitan yang nyata "dilapangan".

Jadi hikmah dibalik musibah yaitu, Allah hendak mengingatkan, membangkitkan perasaan saling tolong-menolong dan membangkitkan rasa tanggung jawab serta kepedulian kita.

Selasa, 13 Maret 2012

ulasan tahun '65


sedikit mengisi waktu luang, saya ingin sedikit mengulas sejarah tahun 1965 atau G-30 S,mungkin sudah sedikit kita lupakan mengenai sejarah dan peristiwa tersebut. waktu jenjang sekolah dasar sebelum reformasi masih  ingat sekali sebuah  film yang diputar setiap tanggal 30 september yaitu film tentang bagaimana isu kudeta dan pemberantasan partai komunis indonesia(PKI) kemudian pasukan Tni AD sebagai pemberantas pemberontakan tersebut.

namun saat ini saya bukan untuk mengulas fakta mengenai film tersebut tetapi ingin mengulas masalah penegakan hukum dan beberapa contoh kepemimpinan.

 Sebelum 1965 pemerintah Indonesia tidak pernah menimpakan kesalahan kepada suatu kelompok masyarakat secara keseluruhan. Kaum nasionalis yg berjuang utk kemerdekaan pada 45-49 tidak membunuh org2 Belanda hanya karena mereka orang Belanda yang memerangi dan menjajah indonesia 3,5 abad.

Setelah pemberontakan PRRI/Permesta pada 1950-an pemerintah Sukarno melarang partai PSI dam Masjumi karena pemimpin2 mereka mendukung pemberontakan-pemberontakan,Tetapi pemerintah Sukarno tidak menyatakan bahwa semua anggota kedua partai adalah pengkhianat pemerintah dan bangsa.

bahkan pemerintah soekarno tidak menahan atau membunuh orang hanya karena mereka anggota PSI atau Masjumi,bahkan Soekarno mengampuni para pemberontak-pemberontak Darul Islam yangg mengangkat senjata untuk melawan pemerintah. kecuali pimpinan-pimpinan puncaknya.

berbeda dengan partai komunis indonesia(PKI) yang mana anggotanya hampir 3juta anggota PKI dinyatakan bersalah bahkan "diadili" langsung dan proses hukum, memang sebagai anggota PKI btanggung jawab atas segala keputusan yangg diambil para pimpinan yaitu keputusan pimpinan partai mengikat seluruh anggota .

Itulah prinsip kesalahan kolektif sebuah prinsip yg sudah ditolak oleh semua negara dnegara di dunia berdasarkan rule of law yang kemudian diterapkan rezim ordebaru bahkan sampai sekarang yang kemudian kakek nenek buyut di cap sebagai Anggota PKI ataupun simpatisan bahkan bukan anggota PKI dan di cap anggota PKi nasibnya sekarang entah bagaimana..

sedikit ulasan mengenai bagian dari sejarah..
mohon maaf jika ada kekurangan dalam tulisan ini..

Kamis, 01 Maret 2012

Seimbang kah ??


Sesuai dengan fitrah Allah, manusia memiliki 3 potensi, yaitu Al-Jasad (Jasmani), Al-Aql (akal) dan Ar-Ruh (rohani). Islam menghendaki ketiga dimensi tersebut berada dalam keadaan tawazun (seimbang). Perintah untuk menegakkan neraca keseimbangan ini dapat dilihat pada QS. 55: 7-9.
Ketiga potensi ini membutuhkan makanannya masing-masing. :

1.        Jasmani.
Mu'min yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim). Kebutuhannya adalah makanan, yaitu makanan yang halaalan thayyiban (halal dan baik) [80:24, 2:168], beristiharat [78:9], kebutuhan biologis [30: 20-21] & hal-hal lain yang menjadikan jasmani kuat.

2.        Akal
Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akalya. Akal pulalah yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan akal manusia mampu mengenal hakikat sesuatu, mencegahnya dari kejahatan dan perbuatan jelek. Membantunya dalam memanfaatkan kekayaan alam yang oleh Allah diperuntukkan baginya
supaya manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifatullah fil-ardh (wakil Allah di atas bumi) [2:30, 33:72]. Kebutuhan akal adalah ilmu [3:190] untuk pemenuhan sarana kehidupannya.

3.        Ruh (hati)
Kebutuhannya adalah dzikrullah [13:28, 62:9-10]. Pemenuhan kebutuhan rohani sangat penting, agar roh/jiwa tetap memiliki semangat hidup, tanpa pemenuhan kebutuhan tersebut jiwa akan mati dan tidak sanggup mengemban amanah besar yang dilimpahkan kepadanya.
Dengan keseimbangan manusia dapat meraih kebahagian hakiki yang merupakan nikmat Allah. Karena pelaksanaan syariah sesuai dengan fitrahnya. Untuk skala umat, ke-tawazunan akan menempatkan umat lslam menjadi umat pertengahan/ ummatan wasathon [2:143]. Kebahagiaan itu dapat berupa:
-          Kebahagiaan bathin/jiwa, dalam Bentuk ketenangan jiwa [13:28]
-          Kebahagian zhahir/gerak, dalam Bentuk kestabilan, ketenangan beribadah, bekerja dan aktivitas lainnya.

Dengan menyeimbangkan dirinya maka manusia tersebut tergolong sebagai hamba yang pandai mensyukuri nikmat Allah. Dialah yang disebut manusia seutuhnya.

Minggu, 12 Februari 2012

semangat perbaiki diri



Individu adalah komponen terkecil penyusun masyarakat, Dia memegang peranan penting dalam menentukan perjalanan dan bentuk masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, yang menjadi tonggak dalam gerakan kita adalah individu, kemudian keluarga, dan akhirnya masyarakat. Maka perbaikilah dirimu terlebih dahulu, kemudian serulah orang lain ke jalan kebaikan. Karena terwujudnya pribadi-pribadi yang benar-benar mukmin akan membuka banyak peluang untuk sukses. Inilah karakteristik Islam yang paling menonjol, yaitu pembentukan pribadi islami {takwin asy-syakhshiyab al-islamiyyah).

           Walau jumlah orang yang memusuhi Islam sangat banyak, namun jika kita dapat mengajak satu orang dari mereka dalam setiap hari agar mau bergabung dalam dakwah islamiah, maka perlahan tapi pasti kita telah mengentaskan mereka dari kehinaan jahiliah menuju kemuliaan di bawah naungan cahaya Islam. 

Bukankah ini adalah tujuan dakwah? Bukankah mencari pengikut dengan cara seperti ini adalah tindakan yang bijaksana dan akan membuahkan hasil yang jelas?

           Tugas kita adalah meluruskan pendapat umum yang salah terhadap Islam. Jika individu bisa menjadi baik, maka masyarakat pun akan menjadi baik, dan dengan sendiri-nya Islam akan berdiri tegak.
Dalam jamaah dakwah islamiah sendiri, kita mengadakan suatu program yang kita sebut dengan projek al-akh al-wahid, yaitu setiap anggota berjanji dan berusaha untuk mengajak satu orang anggota baru dalam satu tahun.

           Tidak seorang pun diperbolehkan menunda-nunda waktu, karena perputaran waktu adalah bagian dan pengobatan dan pembentukan (at waqtu juz'un minal 'ilaj wat takwin). Sehari dalam kehidupan individu adalah setahun dalam kehidupan umat. Umat yang mengerti betul akan hakikat kehidupan, mereka tidak akan pernah mati.

            Ini semua akan bergantung pada para da'i dalam memandang kesucian dan urgensi risalah dakwah serta bergantung pada pengorbanan para da'i, baik harta, tenaga, maupun waktu. Yang perlu diperhatikan oleh para da'i pada masa pembentukan (fase takwiniyab) adalah memberikan uswah hasanah, bertujuan menampilkan di hadapan masyarakat gambaran nyata tentang Islam. Ini harus dilakukan dengan kemantapan iman, pemahaman yang universal, dan bertoleransi dalam masalah-masalah khilaf dan furu.

Metode dakwah haruslah secara tadarruj (bertahap), sebagaimana firman Allah swt.,
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."
(Asy-Syu'ara: 214)

"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. "
(Al-Hijr: 94)
"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, kerana sesungguhnya mereka telab dianiaya. Sesunggubnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu." (Al-Hajj: 39)
Dari anasir jahiliah, Rasul mencetak pasukan hidayah. Dari anasir hidayah, Rasul menaklukkan negeri-negeri thaghut. Di jalan itulah, Rasul meletakkan sistem dakwahnya.

Sumber : Abbas As-Siisi At-Thariq ilal Quluub(bagaimana menyentuh hati)